Alat tambal ban dalam dan suka duka pengalaman nya

Rekan-rekan semua, mungkin sedikit berlebihan jika saya mengatakan bahwa menjadi tukang tambal merupakan bagian dari cita-cita saya. Mentok dan dua kali gagal didunia pendidikan membuat otak harus berpikir agar tetap bisa mendapat posisi untuk memainkan peran dalam kehidupan sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu dengan yang lain. Pada sesi kali ini kita tidak akan membahas cara menambal melainkan sekilas pengalaman pribadi bersama alat tambal ban dalam dan suka duka pengalaman nya.

Dasar pemikiran saya untuk bisa memiliki alat dan keahlian menambal yang tergolong pekerjaan rendah ini, tidak lain karena masih termasuk salah satu bidang usaha yang masih berhubungan dengan dunia bengkel sepeda motor. Dimana terdapat 3 poin penting yang bisa menjadi pondasi usaha bengkel yang bisa menopang kinerja bengkel sederhana dalam mendapatkan penghasilan. Ketiga poin yang dimaksud yaitu servis, tambal dan pengecatan.

Alat tambal ban dalam yang saya miliki, didapat dari seorang rekan yang menjual perkakas bengkel nya. Barang bekas yang sangat terasa manfaatnya meski sudah tidak efektif lagi karena inovasi juga terus berjalan dibidang tambal menambal. Rata-rata saat ini, alat tambal sudah berukuran mini dan tidak lagi menggunakan kompor minyak tanah melainkan dengan elemen untuk menghasilkan panas yang dibutuhkan.

Suka duka pengalaman dalam memberi layanan jasa tambal cukup beragam. Bahkan ada konsumen yang sangat ketus dan berlagak sok tahu, sampai konsumen yang menghardik dengan suara kasar lantaran merasa memiliki status sosial yang lebih tinggi. Mmm...tapi jika dilihat dari sisi lain, sebagai penyedia jasa, saya tidak melihat semua konsumen itu bisa berujung materi. Malah untuk konsumen yang betul-betul dalam keadaan butuh bantuan, imbalan tidak lagi menjadi tujuan. Sisi kemanusiaan tetap harus dipertahankan, untuk saling membantu dengan ikhlas dan mengharap imbalan dari Yang Maha Pemberi Rejeki saja.

Menolak konsumen yang butuh jasa tambal, berujung penyesalan

Kejadian ini cukup sulit untuk dilupakan, saat malam seorang konsumen yang bocor ban datang bersama istri yang menggendong bayi sambil membimbing anaknya yang masih berusia 5 tahun. Lantaran kesal seharian menghadapi konsumen yang ketus saat diberikan layanan jasa tambal, aksi mogok menambal pun dilakukan. Akhirnya konsumen ini pun pergi dan mencari jasa tambal yang cukup banyak di sepanjang jalan.

Satu jam kemudian, setelah bengkel tutup menjelang tengah malam, saya pun pulang untuk berkumpul kembali bersama anak dan istri. Tapi di perjalanan masih bertemu orang yang sama, sedang menuntun sepeda motor nya. Ternyata beberapa penyedia jasa tambal yang dihampiri nya, menolak untuk memberi layanan tambal karena sudah diluar jam kerja. 

Akhirnya saya menyarankan untuk mengendarai saja sepeda motor yang dalam keadaan bocor ban sampai menemukan jasa tambal yang lain dan memberi tumpangan untuk istri dan anak-anaknya sebagai bayaran penyesalan lantaran menolak konsumen yang sedang membutuhkan bantuan.

Sekian dulu rekan-rekan semua, semoga memberi wawasan yang bermanfaat. Sedikit catatan, tambal ban bisa menjadi peluang usaha yang baik untuk dasar pondasi bengkel sepeda motor sederhana yang minim dan terbatas dalam permodalan, tapi tidak semua ilmu yang bermanfaat dan keahlian harus dibayar dalam bentuk imbalan.