Wearpack Balap kenangan saat masih bujangan

Rekan-rekan... ketertarikan terhadap dunia sepeda motor, dulunya sempat menyeret untuk turun balapan resmi. Bukannya narsis, tapi kebetulan bongkar barang-barang lama dan ketemu foto saat masih bujangan dengan wearpack pertama. Entah dimana lucunya...tapi bikin anak-anak dan istri ngakak, tertawa terbahak-bahak tapi tidak sampai guling-guling.


Wearpack balap buatan lokal yang dibeli 12 tahun lalu sekitar akhir tahun 2002, jelas tidak ada apa-apanya dibandingkan wearpack balap full protector saat ini. Tapi sulitnya mendapatkan perlengkapan balap di daerah saat itu tidak menyurutkan keinginan untuk berusaha memilikinya agar bisa ikut balapan resmi.

Mengingat keinginan yang kuat meski tidak mendapat restu orang tua seutuhnya, tentu saja membuat perjuangan terasa cukup berat. Apa lagi persaingan dengan team balap yang lebih solid dengan motor balap yang spek nya jauh lebih unggul dibandingkan pembalap lokal preevater. Ditambah saat itu hanya mengandalkan Yamaha Crypton 97 korekan mekanik daerah.

Lebih parah lagi pengalaman sebelumnya, mengikuti road race hanya mengandalkan motor yang nyaris standar tanpa perlengkapan balap yang memadai. Saat itu pun masa transisi Motogp dimana motor 2 tak 500 cc diadu dengan 4 tak 1000 cc, road race tarkam turut kena imbas. Motor 4 tak 110 cc diadu dengan 2 tak standar tune up dalam satu class yaitu class campuran.

Pada babak penyisihan masih bisa mencicipi posisi 3 lantaran bertanding dengan sesama motor 4 tak 110. Tapi saat final diperbolehkan untuk ganti motor dengan 2 tak standar tune up. Alhasil... Yamaha Cryton yang nyaris standar dengan karburator standar bahkan masih menggunakan footstep standar tanpa kopling tangan, puas diasapi motor 2 tak yang saat itu didominasi Yamaha F1ZR dan Suzuki Satria 120 R.

Hadeh... jika dikenang lagi rasanya lucu-lucu sedih. Wearpack yang tidak komplit dengan sepatu balap nya memaksa otak untuk kreatif dan akal-akalan agar tetap lolos mengikuti lomba. Solusinya, sepasang sepatu dipinjamkan rekan yang masih tetangga dekat rumah, setelah diperhatikan dengan seksama ternyata sepatu dinas bapaknya yang sudah tidak digunakan lagi untuk bekerja, he..he..

Apa hendak dikata, keterbatasan dana dan prasarana tapi tidak sampai mengurungkan niat untuk mengikuti ajang road race resmi. Sampai akhirnya memutuskan untuk berhenti balapan dan fokus untuk mengembangkan usaha bengkel karena faktor usia dan keinginan untuk meninggalkan status bujangan.

Terakhir kali mengikuti balapan, menggunakan Yamaha F1ZR 2 tak tune up dan setelah itu semua perlengkapan balap termasuk motor dijual untuk meredam keinginan mencicipi sirkuit dadakan.