Tantangan Airbrush Realis

Rekan-rekan MotorExpose... lama bergelut didunia airbrush belum tentu mahir disegala bidang, apalagi terbiasa dengan orderan airbrush grafis yang pengerjaan nya lebih didominasi isolasi kertas sebagai alat bantu dalam membuat motif yang diinginkan. Kali ini tantangan airbrush realis diberikan konsumen yang sempat bikin jantung berdebar lantaran khawatir tidak bisa menuntaskan nya. Kenapa orderan kali dianggap sebagai tantangan? Yuuk... kita lanjutkan ceritanya.


Alasan pertama tentu saja tidak terlatih, terakhir kali membuat airbrush realis diterapkan pada Yamaha F1ZR...itu pun sekitar tahun 2004 dan baru sekarang akan mengulang kembali. Otot-otot tangan jadi kram memegang penbrush, jantung berdebar takut cemoohan datang seperti saat-saat pertama berkarya dalam tahap belajar. Maklum... basic awal dari mesin pindah haluan jadi penyedia jasa airbrush jelas sangat berbeda aliran. Apalagi jiwa seni yang kurang dan hanya mantap di ilmu pasti, hehe... :)

Tapi nggak masalah, kali ini negosiasi harga sedikit berbeda dari biasanya. Konsumen tidak dikenai biaya sejak awal tapi bukan berarti gratis. Intinya jika dia puas, silahkan kasih uang jasa tapi jika kecewa... tidak dikenakan biaya cukup bayarkan segelas kopi saja. Hmmm... sama saja bohong, hahaha... :D

Lanjut, alasan kedua yang membuat airbrush realis menjadi sebuah tantangan yaitu peralatan airbrush yang tidak mumpuni. Satu-satunya penbrush yang ada dibengkel hanya ukuran 0,3 mm yang sudah cukup berumur sehingga untuk mendapatkan garis halus yang bagus sudah tidak mudah. Apes tapi masih bisa diakali dengan membuat mall atau stensil untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan pemilik motor. Cara airbrush realis jelas-jelas berbeda tingkat kesulitannya dibandingkan airbrush grafis yang biasa dikerjakan.

Baca Juga : Cara Memotong Isolasi Kertas Untuk Airbrush Grafis

Tingkat kesulitan untuk mendapatkan hasil maksimal  dengan peralatan seadanya diperparah lantaran media yang akan di airbrush tidak bidang rata. Hal ini memaksa untuk menggunakan teknik free hand, dimana teknik ini yang menjadi sisi lemah selama ini. Kemampuan untuk memainkan penbrush dengan tangan bebas jelas terasa berat karena memang kurang berbakat. Semburan penbrush yang sudah melebar karena sudah aus, membuat proses pengerjaan tidak semudah saat melakoni airbrush grafis.

Namun apapun keterbatasan yang ada teknik akal-akalan akan tetap dilakukan dan tidak akan menyerah menghadapi tantangan airbrush realis ini. Bagaimana hasil akhirnya? Sabar... rekan-rekan, pada sesi berikutnya akan kita lanjutkan setelah pengecatan dan airbrush selesai. Pokoknya ikuti terus MotorExpose, kita akan berbagi lebih banyak lagi hal-hal seputar aktivitas bengkel untuk kita jadikan referensi bersama.